Pertandingan itu sendiri jelas akan menjadi pertandingan yang
tidak akan mudah bagi Dortmund terlebih degnan kepastian absennya penyerang
andalan mereka tersebut yang absen dalam laga nanti. Kehilangan sosok penyerang
yang pada musim lalu berhasil menjadi penentu keberhasilan Borussia Dortmund
menyingkirkan Real Madrid di babak semi final di musim lalu memang menjadi
pukulan telak bagi sang pelatih Jurgen Klopp.
Namun Klopp sendiri sudah mempersiapkan berbagai opsi untuk
mengantisipasi ketidak hadiran Robert Lewandowski di barisan penyerangan mereka
pada pertandingan nanti. Salah satunya adalah dengan menempatkan gelandang
mereka yakni Marco Reus untuk menjadi penyerang menggantikan posisi dari Robert
Lewandowski pada pertandingan nanti. Lantas mengapa Marco Reus yang di
persiapkan menjadi penyerang pada pertandingan nanti? Klopp sendiri mengatakan
bahwa Marco Reus memiliki kecepatan dan naluri gol yang begitu tinggi layaknya
seorang penyerang handal dan Klopp pun mengatakan bahwa dirinya akan sangat
senang andai saja Marco Reus bersedia di tempatkan di barisan depan pada
pertandingan nanti.
Mendapatkan tantangan dari sang pelatih untuk menggantikan
posisi Robert Lewandowski sebagai pengobrak – abrik pertahanan lawan Marco Reus
pun dikabarkan bersedia dan tak terlalu mempermasalahkan posisi dimana ia
bermain dimana menurutnya hal itu sudah tidak terlalu penting lagi dimana ia di
tempatkan karena baginya bermain sebagai seorang gelandang, winger ataupun
sebagai seorang penyerang tak akan terlalu berbeda karena ia selalu bermain
dengan sepenuh hati dan dengan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.
Kemenangan menjadi target utama Reus pada pertandingan nanti dimana ia berharap
kemenangan di markas Real Madrid akan memuluskan langkah mereka dengan hanya
membutuhkan setidaknya hasil imbang pada leg kedua yang akan digelar di markas
Dortmund sendiri yakni di Stadion Signal Iduna Park.
Banyak definisi yang diberikan
tentang ‘belajar’. Misalnya Gage mengartikan ‘belajar’
sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya.Cronbach
mendefinisikan belajar: “learning is shown by a change in behavior as a result
of experience” (belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku
individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning
is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to
follow direction” (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba
sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan
bahwa: “learning is a change in performance as result of practice.” (belajar
adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik), Kemudian,
menurut Ratna Willis Dahar “belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku
yang diakibatkan oleh pengalaman”. Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan
dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:
Pertama, pada tingkat emosional
yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan
suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu
fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan
untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden,
dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak
menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.
Kedua, belajar kontiguitas,
yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu
waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini
dapat menyebabkan belajar dari ‘drill’ dan belajar stereotipe-stereotipe.
Ketiga, kita belajar bahwa
konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi
atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut
belajar operant.
Keempat,
pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita
belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model
bagi orang lain dalam belajar observasional.
Kelima, belajar kognitif terjadi
dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar
kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.
Akhirnya, Depdiknas mendefinisikan
‘belajar’ sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau
pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa
atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran
(pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap
pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil
ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari
guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan
aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai
merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.
Dengan
kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu
adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya
tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada
siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya.
Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang
baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada
seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak
tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”. selamat mencoba

Tidak ada komentar:
Posting Komentar