anda ingin belanja murah silahkan klik Gambar ini


Breaking News

About

Follow us on FaceBook

Minggu, 28 Desember 2014

Reus Siap Jadi Penyerang Pada Laga Hadapi Madrid

Pertandingan itu sendiri jelas akan menjadi pertandingan yang tidak akan mudah bagi Dortmund terlebih degnan kepastian absennya penyerang andalan mereka tersebut yang absen dalam laga nanti. Kehilangan sosok penyerang yang pada musim lalu berhasil menjadi penentu keberhasilan Borussia Dortmund menyingkirkan Real Madrid di babak semi final di musim lalu memang menjadi pukulan telak bagi sang pelatih Jurgen Klopp.
Namun Klopp sendiri sudah mempersiapkan berbagai opsi untuk mengantisipasi ketidak hadiran Robert Lewandowski di barisan penyerangan mereka pada pertandingan nanti. Salah satunya adalah dengan menempatkan gelandang mereka yakni Marco Reus untuk menjadi penyerang menggantikan posisi dari Robert Lewandowski pada pertandingan nanti. Lantas mengapa Marco Reus yang di persiapkan menjadi penyerang pada pertandingan nanti? Klopp sendiri mengatakan bahwa Marco Reus memiliki kecepatan dan naluri gol yang begitu tinggi layaknya seorang penyerang handal dan Klopp pun mengatakan bahwa dirinya akan sangat senang andai saja Marco Reus bersedia di tempatkan di barisan depan pada pertandingan nanti.
Mendapatkan tantangan dari sang pelatih untuk menggantikan posisi Robert Lewandowski sebagai pengobrak – abrik pertahanan lawan Marco Reus pun dikabarkan bersedia dan tak terlalu mempermasalahkan posisi dimana ia bermain dimana menurutnya hal itu sudah tidak terlalu penting lagi dimana ia di tempatkan karena baginya bermain sebagai seorang gelandang, winger ataupun sebagai seorang penyerang tak akan terlalu berbeda karena ia selalu bermain dengan sepenuh hati dan dengan mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya. Kemenangan menjadi target utama Reus pada pertandingan nanti dimana ia berharap kemenangan di markas Real Madrid akan memuluskan langkah mereka dengan hanya membutuhkan setidaknya hasil imbang pada leg kedua yang akan digelar di markas Dortmund sendiri yakni di Stadion Signal Iduna Park.
 
B. Pengertian Belajar

                Banyak definisi yang diberikan tentang ‘belajar’. Misalnya Gage mengartikan ‘belajar’ sebagai suatu proses di mana organisma berubah perilakunya.Cronbach mendefinisikan belajar: “learning is shown by a change in behavior as a result of experience” (belajar ditunjukkan oleh suatu perubahan dalam perilaku individu sebagai hasil pengalamannya). Harold Spears mengatakan bahwa: learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction” (belajar adalah untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri sesuatu, mendengarkan, mengikuti arahan). Adapun Geoch, menegaskan bahwa: “learning is a change in performance as result of practice.” (belajar adalah suatu perubahan di dalam unjuk kerja sebagai hasil praktik), Kemudian, menurut Ratna Willis Dahar “belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman”. Paling sedikit ada lima macam perilaku perubahan pengalaman dan dianggap sebagai faktor-faktor penyebab dasar dalam belajar:

                Pertama, pada tingkat emosional yang paling primitif, terjadi perubahan perilaku diakibatkan dari perpasangan suatu stimulus tak terkondisi dengan suatu stimulus terkondisi. Sebagai suatu fungsi pengalaman, stimulus terkondisi itu pada suatu waktu memeroleh kemampuan untuk mengeluarkan respons terkondisi. Bentuk semacam ini disebut responden, dan menolong kita untuk memahami bagaimana para siswa menyenangi atau tidak menyenangi sekolah atau bidang-bidang studi.
                Kedua, belajar kontiguitas, yaitu bagaimana dua peristiwa dipasangkan satu dengan yang lain pada suatu waktu, dan hal ini banyak kali kita alami. Kita melihat bagaimana asosiasi ini dapat menyebabkan belajar dari ‘drill’ dan belajar stereotipe-stereotipe.
                Ketiga, kita belajar bahwa konsekuensi-konsekuensi perilaku memengaruhi apakah perilaku itu akan diulangi atau tidak, dan berapa besar pengulangan itu. Belajar semacam ini disebut belajar operant.
                Keempat, pengalaman belajar sebagai hasil observasi manusia dan kejadian-kejadian. Kita belajar dari model-model dan masing-masing kita mungkin menjadi suatu model bagi orang lain dalam belajar observasional.
                Kelima, belajar kognitif terjadi dalam kepala kita, bila kita melihat dan memahami peristiwa-peristiwa di sekitar kita, dan dengan insight, belajar menyelami pengertian.
                Akhirnya, Depdiknas mendefinisikan ‘belajar’ sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini terbukti, yakni hasil ulangan para siswa berbeda-beda padahal mendapat pengajaran yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya.

Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”. selamat mencoba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By Blogger Templates